PENGANTAR REDAKSI Percikan pemikiran mengenai etika dan budi pekerti seakan tidak pernah menemukan tapal batas antara hulu dan hilir pengetahuan yang jelas. Perdebatannya seakan terus berkembang danmembuncah seiring ledakan ilmu pengetahuan sekarang. Kesepahaman setiap pola pikir para filsuf etika pun mengenai pentingnya etika dan budi pekerti, belum bisa menjawab setiap persoalan sosial-kemasyarakatan manusia post-modern sekarang. Teknologi memang semakin sangat massif. Namun keberadaannya berbanding terbalik dengan persoalan manusia yang semakin terasing. Jauh-jauh hari, kita semua diingatkan oleh Herbert Marcuse bahwasannya manusia memasuki babak baru apa yang disebutnya sebagai one dimentional man. Teknologi memang memudahkan hidup dan kehidupan manusia. Tetapi pula telah menyeret manusia dan dunia ini pada kehancuran. Manusia semakin terdesak kepada individualistik. Teknologi telah menyeret manusia berasyik-masyuk dengan dirinya sendiri, tanpa peduli dengan manusia lain. Humanisme seakan menjadi jargon saja, yang kenyataannya telah hilang dari dada dan hati setiap manusia. Manusia seakan hadir dalam sesosok “robot” yang bengis, sadis, tanpa perasaan, dan mencabik-cabik setiap nurani dan budi pekerti. Kriminalitas dan kekerasan sesama manusia adalah nadi yang setiap hari berdetak. Sedangkan, dunia semakin sesak dengan polusi dan bahan kimia yang membunuh. Lalu dimanakah peran pendidikan sebagai guru terbaik penuntun umat manusia?! Berawal dari latar belakang di atas, jurnal ini mewujud. Sekedar berikhtiar dalam rangka merekonstruksi ulang dalam membentuk manusia yang paripurna. Manusia yang cerdas otaknya, lembut hatinya, dan terampil tangannya. Kami menyadari usaha praksis di lapangan berawal dari kesadaran pengetahuan di bangku ilmiah. Dalam jurnal ini kami mengawali pembaca dengan mengajak pembaca berselancar menafakuri tulisan “Taharah Spiritual: Telaah atas EtikaBersuci Ibn ‘Arabi” karangan Ukun Kurnia. Tulisan sufistik ini mengingatkan kita semua betapa ibadah praksis berwudhu saja mengajarkan kepada kita untuk memiliki tangan, mulut, kaki, dan kepala yang suci. Lebih jauh tangan yang suci adalah tangan yang terbebas dari sifat dan sikap perilaku korupsi, yang konon ini sebagai penyakit akut bangsa ini. Tulisan ini pula memuat “Telaah Konsep Idealisme Pendidikan atas Krisis Pendidikan Indonesia: Sebuah Kritik” karangan Akhsan Sukroni, Guru sebagai Agen Pembelajaran: Kenangan Siswa terhadap Guru dalam Pembelajaran” karangan Agus Nurcholis Saleh, dan kemudian tulisan“Efektivitas Program Mentoring Halaqah dalam Meningkatkan Kecerdasan Moral Siswa” karangan Ade Hidayat, yang memuat bagaimana sebuah konsep atas persoalan sosio-kemasyarakatany ang terus menganga. Sisi lain dalam jurnal ini ada dalam tulisan yang berjudul “Pendidikan Demokratis Jalanan dalam Banyolan Stiker Gaul Sepeda Motor” yang ditulis berdua oleh Heri Mohamad Tohari dan A. Syihabudin. Tulisan ini memotret fenomena humor yang ada di lapangan, pada sebuah stiker yang teronggok di plat motor. Fenomena ini memberikan pembelajaran yang luar biasa mengenai nilai demokrasi yang sesungguhnya. Semoga dengan kehadiran jurnal perdana ini menjadi obat penawar akan dahaga kita semua yang merindukan sosok-sosok manusia baru yang memiliki Etika dan Budi Pekerti yang luar biasa. Kehadiran jurnal yang belia ini, menandai minimnya sebuah pengalaman. Serasa kepala ini bersimpuh memohon maklum atas segala noda dan kekurangan yang hadir dalam jurnal ini. Teriring doa semoga jurnal ini bermanfaat untuk sekalian pembaca. |